New Normal Ria

Kalau bangun pagi terus sahur terus ngaji sudah jadi rutinitas selama Ramadan, lantas kenapa di bulan lain rasanya jadi tidak lebih ringan? Kalau satu sampai dua lembar bisa dihabiskan setiap kali selesai salam dan berdoa, lantas kenapa di hari-hari lain sulit sekali dilakukan?

Niatnya, Ri.

Keteguhan hatinya.

Coba ditengok lagi ke dalam samudera yang luasnya tidak bertepi itu, niatmu sampai di mana? Yang kemarin-kemarin itu diulang selama berpuluh tahun mau dibuat guna seperti apa?

Niatnya, Ri.

Kemantapan hatinya.

Belum terlambat, belum. Coba diyakinkan kembali dan kemudian dikerjakan. Sedikit sekali berubahnya? Tidak apa-apa, tapi jangan lelah dan lantas berhenti ya. Aku bersamamu.

Penyesalan

Seseorang pernah menyampaikan untuk tidak bergantung pada manusia perihal sebuah pengharapan, tapi gantungkan semua pada-Nya. Jadi, ketika apa-apa yang kamu kira harap sempurna ternyata retak di berbagai sisi, kamu tidak mendapati dirimu kecewa secara berlebihan.

Sayangnya aku lupa untuk memegang teguh perkataannya dan membiarkan diri jatuh justru ke tempat yang tidak semestinya. Dia tahu itu, aku juga sama. Hanya saja kami tutup mata dan telinga. Pura-pura lupa. Pura-pura tidak tahu apa-apa.

Lantas bagaimana?

Penyesalan menjadi milik kami, selamanya. Nasi menjadi bubur, kami sedang mencoba memperbaiki rasanya kemudian menikmati. Apa-apa yang terlanjur, kami pilih sebagai jalan yang mesti dilalui.

Tapi, semoga kami dijauhkan dari sebuah penyesalan di hari akhir kelak.

أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَٰحَسْرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِى جَنۢبِ ٱللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ ٱلسَّٰخِرِينَ

Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (Az Zumar: 56)

Sesungguhnya kami berlindung dan berserah pada-Nya. Dia Maha Mengetahui segala hal baik dan buruk bagi kami.

Hal Kecil

Merica sama ketumbar itu jelas bedanya. Pun dengan daun jeruk dan daun bawang. Kamu juga tahu kan bedanya cabai merah dan cabai keriting? Oh, atau satu lagi! Kamu tahu kan mana yang lengkuas dan mana yang jahe? Bahwa dengan memukul pangkal sereh menggunakan pegangan pisau akan lebih membuat rasa dan aromanya menguar. Merobek daun jeruk sebelum mencemplungkannya ke dalam larutan penuh bumbu akan membuatnya rasanya padu. Cuci piringnya semua dulu, baru bilas. Pakai baskom yang sudah berisi air untuk menaruh kentang setelah dikupas.

Itu semua hal kecil, katamu. Tapi besar untukku.

Merasa Cukup

Nope didengerin kamu aku merasa cukup.

Perbincangan dengan manusia lain terkadang memang bisa jadi sebuah inspirasi mengeluarkan isi kepala. Tempo lalu, memperhatikan orang lalu lalang. Selepas bincang cantik di sebuah kedai kopi bawah tangga dan berakhir di tukang sate pinggiran Gandaria. Rupa-rupa sekali apa yang kita dengar, kita lihat, kita baca, kita rasa, dan tentu saja juga dengan yang kita simpan dalam kepala.

Bahkan ketika mereka sudah tertidur dengan pulas, bisa saja kita masih terjebak dengan pemikiran yang selalu saja memangsa secara buas. Tidak pernah merasa kita akan baik-baik saja tanpa harus memikirkan banyak hal sekaligus. Padahal semua ada porsinya, tidak perlu terlalu selalu bersikeras.

Merasa cukup. Kalimat yang seringkali hilang esensinya ketika kita abai pada kenyataan. Mengejar banyak impian. Menjalani banyak kehidupan. Mengiyakan apa kata orang lain yang bahkan tidak kenal siapa kita dan apa yang sebetulnya kita butuhkan. Terus mendongak tapi lupa untuk tunduk juga ke bawah. Lupa untuk menghargai hal-hal sederhana tapi penuh makna.

Perasaan cukup bukan berarti tidak memiliki tujuan lebih besar. Hanya saja ada makna bersyukur di dalamnya. Sekaligus penghargaan pada waktu juga banyak pihak secara bersamaan. Dirimu sendiri, karena telah menerima semuanya dengan lapang dada. Kepadanya, karena telah ada di sisimu tidak peduli seberapa buruknya kau saat itu. Kepada sekitarmu, karena telah membuatmu sampai pada titik itu. Kepada Tuhanmu, karena telah memberikan kesempatan padamu untuk menjalani semuanya.

Merasa cukup menjadikanmu tidak akan tamak di setiap hal, tapi bukan berarti mimpimu juga hanya akan menjadi sebuah khayal. Hatimu akan lebih lapang dan semua akan terasa lebih ringan. Untuk setiap tetes ide yang kau bawa lari di tanah lapang, mereka akan mengalir dan siap menuntunmu ke padang bunga yang lebih indah tanpa harus saling menjatuhkan.

Kunci membuatmu bahagia sepertinya adalah belajar untuk mendengarkan dengan benar. Tidak melulu harus sibuk berkelakar. Ya, aku di sini. Aku mendengarkanmu. Aku ada untukmu.

Suatu hari ketika kamu kembali merasa cukup, kamu bisa sampaikan padaku. Aku akan sangat senang mendengarnya.

Belajar Berbagi bersama GO-Pay

Untuk sebuah komunitas, ternyata sosialiasi di sosial media itu tidak kalah penting. Sama halnya dengan urusan sosial media pribadi. Komunitas perlu mengembangkan organisasinya untuk terus dikenal dan dipercaya oleh masyarakat jika ingin maju dan diakui. Kelayakan komunitas untuk diserahi berbagai jenis donasi juga kerap kali dinilai sekilas dari unggahan yang muncul di lini masanya.

Jika pengelolaan dari sosial medianya baik, orang akan lebih mudah percaya dan tertarik untuk bergabung. Baik di sini dalam artian mampu memberikan konten positif dan efektif bagi para pengguna sosial media. Sesuai dengan segmentasi yang diharapkan.

Karenanya datang ke acara seperti ini adalah suatu pengalaman berharga bagi saya yang saat itu sedang mewakili Terminal Hujan. Belajar Berbagi bersama Gopay #1 mengangkat tema “How to Kick Off Your Social Media Campaign Strategically For Non-Profits” dengan pembicara : Andreas Gandhi H.P (GOJEK Digital Marketing Manager). Para organisasi yang hadir mendapatkan materi mengenai strategi bagaimana membuat sebuah kampanye sosial, seru banget!

Kalau sebelumnya mau posting bisa kapan saja waktunya, sekarang jadi tahu ternyata ada waktu-waktu tertentu yang sangat efektif untuk mendapatkan keterikatan dengan pengguna sosial media yang mengikuti kita. Karena Terminal Hujan adalah sebuah komunitas yang bergerak aktif di bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan, di sini saya juga jadi banyak belajar seputar campaign apa yang kira-kira pas dan bisa dibuat selaras dengan visi misi organisasi. Kalau sebelumnya kita sebegitu clueless-nya dengan cara mengelola campaign tersebut, di sini saya jadi tahu ternyata kita bisa pakai beragam alat untuk evaluasi dan pencapaian tertentu.

Tiga hal yang sangat jelas dan nendang banget bagi sebuah komunitas kalau ingin membuat campaign donasi adalah sbb:

  • Mulai dari sebuah tanda tanya, WHY
  • Understand the customer/donors
  • Understand the data for content development

So happy!

Sebuah Visi dari Ria

Hari ini ikut kajian tentang “Kebangkitan Islam, Peluang, dan Hambatan”. Dari materi yang disampaikan ustadz-nya, Mr. Sukeri, ada sebuah pernyataan dari Nabi Muhammad SAW, yang isinya gini:

«إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا»

Sesungguhnya Allah mengutus untuk umat ini, pada setiap akhir seratus tahun, orang yang memperbaharui untuk umat agama mereka (HR Abu Dawud no. 4291, Dishahihkan oleh as-Sakhawi di al-Maqâshid al-Hasanah (149) dan al-Albani di as-Silsilah ash-Shahîhah no. 599)

Nah, kalau dari apa yang aku tangkap tadi kita sudah sampai masa si seratus tahun itu ketika 2024. Artinya, nanti di 2025 akan ada perubahan yang terjadi di tatanan umat saat ini. Arahnya insyaallah ke yang baik dan semakin baik yaa. Terus aku jadi mikir gitu, sudah seperti apa ya aku nanti di tahun itu?

Menggeliatlah sebuah pemikiran sederhana yang sejak dulu jadi pegangan hidup, aku ingin hidup sederhana tapi bisa mendidik anak yang baik. Menyiapkan generasi penerusku dengan bekal apik.

Iya tahu, sebelum betulan punya anak sendiri harus juga bersuami dan dibuahi. Makanya, semakin sadar diri bahwa aku ini masih jauuuuh sekali dari kata baik sebagai seorang perempuan. Belum siap dengan bekal-bekal dan segala perintilannya. Tapi aku tidak putus belajar, percayalah.

Ada banyak hal yang harus aku siapkan untuk menyambut masa-masa keemasan ketika Islam kembali berjaya. Ada banyak hal juga yang harus selalu aku lakukan berulang untuk semakin baik di tiap harinya kalau berharap bisa masuk surga. Cliche. I know.

Aku masih bergulat dengan hapalanku yang selalu saja belang bentong, tapi aku masih suka dengar musik. Aku masih bolak-balik pakai baju panjang dan pendek. Aku masih saja mondar-mandir bermain bersama teman-teman lelaki yang bukan mahrom. Seperti hatiku masih saja dibolak-balik. Termasuk seringkali termenung, sebetulnya tujuan aku hidup ini apa?

Buat kemana?

Buat siapa?

Begitulah.

Tapi semoga, setiap niat baik ini bisa diamini semesta. Diridhoi Allah. Visinya sekarang semakin jelas. Tinggal dilakukan setiap langkah demi langkah.

Aku Ola!

Halo, aku Ola! Aku bertubuh mungil tapi kuat. Juga bulat. Orang-orang akan tertawa kalau aku tertawa. Lucu katanya. Mataku jadi tinggal segaris. Gigiku belum tumbuh semua. Tapi sekarang aku sudah sekolah. Kelas TK Besar.

Ternyata bermain di luar rumah itu menyenangkan ya. Aku bisa berlari ke sana kemari. Ibu juga tidak banyak khawatir seperti di dalam rumah. Aku juga tidak sedikit-sedikit dengar larangan ini-itu.

“Awas, La.”

“Hati-hati, La.”

“Ola, jangan ke sana.”

Tidak ada sama sekali. Ibu tersenyum padaku sepanjang hari. Sesekali mendekatiku dan melihat apa yang aku kerjakan atau membawakan aku makanan. Tadi pisang goreng coklat keju, kemudian jus jeruk segar. Ibu sudah menyiapkan bekal yang banyak dari rumah. Pokoknya aku senang. Aku bebas melakukan apa saja. Membuat gambar di atas pasir, berguling-guling sampai bosan, membenamkan diri di air, atau bersembunyi di balik batu besar memperhatikan kepiting dengan diam-diam. Menunggu mereka keluar berjalan dengan kedua capitnya di atas.

Hari ini adalah pertama kalinya aku diajak ke pantai oleh Ibu. Rumahku di daerah perbukitan. Semuanya hijau karena banyak pohon. Tapi bukan tempat terpencil karena akses kendaraan umum juga tersedia dan mudah untuk didapatkan. Hanya saja, rumahku memang jauh dari mana-mana. Jauh dari pasar, jauh dari sekolah, jauh dari kota Jakarta, dan tentu saja jauh dari pantai mana pun. Aku dan Ibu harus rela naik turun kendaraan, berganti-ganti. Tapi lihatlah hari ini, kami berdua di sini!

Sebuah pantai. Sejauh mata memandang, ada hamparan laut seperti permadani dan terdengar debur ombak seperti lagu tidur yang seringkali ibu nyanyikan untukku.

“Hai, Ola! Bagaimana rasanya main ke pantai dan melihat lautan?” tiba-tiba ada suara di balik batu. Seekor kepiting muncul di depanku. Tentu saja aku terkejut. Aku terjatuh ke belakang.

 “Hei, kamu kok bisa bicara?” aku sambil menengok ke kiri dan ke kanan. Tidak ada siapa-siapa. Ibu masih tetap jauh di tempatnya sedang merapikan roknya yang terkibas angin.

“Ups, maaf Ola. Aku mengejutkanmu. Aku Pipi Kepiting. Dia temanku, Rara Kerang.” Kemudian muncul sebuah kerang dari dalam pasir tepat di sebelah kepiting yang tadi. Aku masih tidak percaya si kepiting itu yang bicara.

Pipi Kepiting menggerakan kaki-kakinya ke arahku, jalannya miring. Hihi lucu sekali. Rara Kerang tetap di tempatnya sambil membuka dan menutup cangkangnya.

“Oh, aku Ola. Halo, salam kenal!” aku memberikan tanganku pada Pipi Kepiting. Aduh aku lupa, dia kan tidak punya tangan sepertiku.

“Hahaha. Mana bisa kita berjabat tangan, Ola.” Pipi Kepiting tertawa.

Aku menggaruk-garuk kepala sambil menunduk. Juga sambil tertawa. Kami bertiga jadi tertawa bersama. Pipi Kepiting kemudian bercerita tentang teman-temannya yang lain. Mereka tinggal di lautan, sesekali muncul di daratan. Di sepanjang garis pantai. Rara Kerang tidak mau kalah bercerita. Tentang luasnya lautan tempat tinggal mereka dan hamparan pasir yang membentang.  Dia dan teman-temannya pernah datang bergerombol dan memenuhi garis pantai ini. Semuanya penuh kerang. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya kalau semuanya kerang, terus pasir-pasirnya kemana dong?

“Ola sedang apa di sini?” Rara Kerang kemudian bertanya padaku.

“Eh aku? Aku…tadi aku memperhatikan kalian. Sembunyi di balik batu itu.” Aku tertawa, malu tapi lucu rasanya seperti ketahuan kalau lagi ngintip.

“Istana pasir itu buatanmu?” Pipi Kepiting mengacungkan capitnya ke arah gundukan pasir di sebelah kakiku.

“Wah bagus ya. Aku akan masuk ke sana. Boleh kan? Ya?” dia langsung berjalan menyamping menuju gundukan pasir yang aku buat. Padahal aku belum menjawab apa-apa.

“Area pasir di sini dulunya lebih banyak, Ola. Lahannya lebih luas. Kamu bahkan bisa bebas tiduran tanpa takut sampah nyangkut di tubuhmu. Kalau kamu berlari, kamu juga pasti tidak akan menemukan sebelah sandal jepit seperti di pojokan itu. Terus yaaa, wangi lautnya lebih segar, betulan bau air laut tidak bercampur dengan bau tidak sedap dari gunungan sampah yang ada di sana itu juga. “ Rara Kerang bicara padaku.

“Oh ya? Jadi maksud Rara tempat ini dulunya jauh lebih bagus? Tapi aku sudah senang kok bisa ke sini hari ini. Ini pertama kalinya aku dan Ibu main ke luar rumah yang jauuuuuuuh. Pertama kali juga aku melihat laut langsung.”

Aku baru sadar ternyata tempat mainku dari tadi dekat dengan tempat sampah besar. Isinya banyak sampah plastik yang sudah rusak dan aneka benda yang bentuknya sudah aneh. Mungkin aku hanya terlalu senang. Senang karena akhirnya aku bisa jalan-jalan bareng ibu melihat pantai.

“Tapi aku mau datang ke sini lagi nanti kalau sudah besar.” Aku berbisik pada Rara Kerang.

Semilir angin memainkan rambut ikalku. Aku ngantuk dan merebahkan tubuhku. Ombak mengantarkan air laut sesekali mengenai kakiku. Suara Rara Kerang semakin tidak terdengar.

Saat aku membuka mata, aku sudah di pangkuan ibu. Hihi rupanya aku ketiduran. Berapa lama ya? Wah, hari sudah gelap. Kami sudah di penginapan.

“Bu, tadi Ola ngobrol sama Pipi dan Rara lho di pantai. Harusnya aku kenalin ya ke Ibu.” Begitu bangun aku laporan ke Ibu tentang dua teman baruku siang tadi.

“Pipi dan Rara?” Ibu mengangkat sebelah alisnya, sepertinya bingung.

“Iya, Bu. Pipi itu kepiting terus Rara itu kerang. Mereka cerita banyak hal ke Ola. Tentang teman-temanya, rumahnya di mana, terus ya Bu mereka juga bilang tentang pantai yang kita datengin tadi itu sebetulnya lebih luas, Bu. Luaaaaaas banget.” Aku sambil membentangkan tangan ibu.

Ih, Ibu kok cuma senyum-senyum aja sih.

“Ya sudah, sekarang kita mandi terus makan malam. Nanti lanjut cerita tentang siapa tadi, Pipi dan Rara?”

“Ibu, terima kasih yaaa. Aku senang sekali hari ini. Senaaaang.”

Sebelum bergerak dari pangkuan Ibu, aku mendapatkan kecupan di pipi kiriku. Ah, hari ini ini kado paling menyenangkan yang aku terima. Eh tapi sebetulnya aku juga tidak paham betul sih apa maksud Rara siang tadi itu. Mungkin nanti Ibu bisa jelaskan. Ah, aku senang. Terima kasih jalan-jalan hari ini, Bu!

Membaca

Tadinya mau melanjutkan membaca buku The Happiest Woman-nya ‘Aid al-Qarni, tapi entah kenapa raga dan jiwa ternyata ga kompak. Baru sadar juga bahwa perasaan semacam ini kerap kali terjadi lho. Pas mau baca sesuatu yg menurut otak itu penting, tapi hati ga main di sana. Dia seperti entah lagi pergi ke mana dan malah percuma buka buku.

Kelas pertama bareng Reda kemarin menyadarkan aku juga tentang satu hal, bahwa untuk menjadi terbiasa kita memang perlu push diri kita lebih keras tapi ga mesti jadinya malah merusak semangat yang ada atau jangan juga jadi malah terlalu idealis atau perfeksionis jadinya malah ga ngehasilin apapun. Even itu selembar halaman yang perlu dibaca atau sebuah paragraph yang perlu ditulis.

Well, cuma mau quick writing. Meloloskan apa yang baru saja nge- pop up di otak pas tadi lagi megang buku. “Kok ga nyambung ya sama buku ini, padahal gue mau baca ini”, “Kok ngerasa ga tenang dan ga bisa nyerap informasinya sama sekali sih”, dan masih banyak pertanyaan muncul.

Simpulan buat kejadian pagi ini bagiku adalah ternyata, aku sepertinya punya kondisi tertentu yang harus terpenuhi untuk membaca sebuah buku atau artikel. Jadi, ketika kondisi itu tidak tercapai maka momen membaca atau lebih spesifik lagi menyerap informasi menjadi tidak optimal dan akan lebih cepat bosan dan hanya jadi kilasan belaka. Lalu, apa sajakah ‘kondisi tertentu’ tersebut? Sila cek beberapa kondisi yg barangkali juga berlaku untuk kalian:

  1. Otak dalam kondisi butuh asupan informasi dan terstimulus untuk membaca
  2. Tidak dalam tekanan untuk mengerjakan pekerjaan lain yang dapat mendistraksi otak
  3. Lingkungan tidak dalam keadaan berisik alias tenang
  4. Memastikan bahwa Bahasa pada buku yang akan dibaca memang Bahasa yang kamu mengerti

Ya segitu dulu pagi ini!

😊

Review Film: Keluarga Cemara

Harta yang paling berharga adalah keluarga, Istana yang paling indah adalah keluarga, Puisi yang paling bermakna adalah keluarga, Mutiara tiada tara adalah keluarga.

Terngiang sebelum, saat, dan setelah menyaksikan film ini di bioskop kemarin. Ringan tapi bermakna dalam. Lagu lama tapi relate sepanjang masa. Ditambah ga sengaja nemu tautan lagu ini dinyanyikan oleh Novia Kolopaking dengan versinya, https://youtu.be/EvZWgT5sIOw.

Bicara tentang soundtrack film, lagu Keluarga Cemara yang dibuat versi baru ala Bunga Citra Lestari juga tidak kalah syahdu untuk didengarkan. https://youtu.be/SVsEdZseq3o. Telinga serasa dimanjakan.

Buat saya, Keluarga Cemara yang muncul di awal tahun 2019 ini berhasil membuat saya flashback ke masa-masa di mana TV masih menjadi idola karena menayangkan acara-acara menarik di masanya termasuk Serial Keluarga Cemara. Menggali sosok Abah, Emak, Ara, Euis, Ceu Salmah, dll. di masa lalu. Tentu saja dengan pemain yang berbeda, tapi esensi di balik ceritanya tetap sama-sama mengalir mengisi yang kosong.

Selera akan berbeda, buat kamu dan saya yang suka film. Kisah keluarga kaya berujung pada kebangkrutan, jatuh miskin, mulai dari nol lagi, bapaknya kerja serabutan, ibunya usaha bantuin bapaknya, anaknya pindah sekolah, punya teman baru, kehidupan baru, tetap akan jadi sajian yang mengharu biru.

Terlepas ada beberapa hal yang ga begitu saya nikmati dari film ini adalah dimana salah satu brand sponsor so hard sell. Ya, tapi bagaimanapun saya maklum si. Perusahaan itu kalau pasang iklan di film, jaraaaaaang banget yg mau menekan egonya. Inginnya ya, jualan. Dilihat dan diperhatikan oleh penonton. Mengharapkan eksistensi di mata pelanggan. Beberapa kali jadi sponsor film, jadi tahu perasaannya.

Satu hal yang sampai selesai nonton masih terus bergema di telinga saya adalah dialog antara Euis dan Abah di akhir pertengkaran mereka.

Kalian itu semua tanggung jawab Abah.

Kalau gitu, Abah tanggung jawab siapa?

Ini scene yang paling ngena dan menyentak saya. Seketika saya ingat sama papa. Sadar ga sadar, saya terbiasa hidup di lingkungan yang mengagungkan sosok ibu tapi kadang suka lupa ada sosok lain yang juga begitu agung. Papa.

Memendam Dendam

it’s okay if you feel not okay, at least you know that you’re can be okay and not. that’s human.

#riathoughts

Sekali atau mungkin berkali-kali kamu pernah merasakan perasaan tidak nyaman. Belum kamu namai apa, karena belum kamu temukan jenis perasaan itu apa. Seperti kemarahan, rasa kesal, kecewa, putus asa, tidak rela, atau sakit, bahkan ingin membunuh tapi tahu sudah pasti itu berdosa. Kemudian perasaan itu timbul tenggelam dan mengendap pada suatu ruangan gelap kemudian terpendam begitu saja. Tidak bernama. Tapi terasa mengerikan jika ia mulai berjalan ke pintu. Memaksa keluar dan menghabisi apa yang ada di jalannya.

Barangkali itulah dendam versiku.

Kupikir aku pemaaf, tapi ternyata tidak begitu. Pada waktu dendam itu terbentuk aku hanya tidak menyadarinya dengan baik. Mengabaikannya. Membuatnya semakin tidak terkendali tapi kesepian. Terkurung dalam sebuah ruangan tidak berkawan. Menjadikannya semakin liar dan sudah pasti sulit diatur.