Penyesalan

Seseorang pernah menyampaikan untuk tidak bergantung pada manusia perihal sebuah pengharapan, tapi gantungkan semua pada-Nya. Jadi, ketika apa-apa yang kamu kira harap sempurna ternyata retak di berbagai sisi, kamu tidak mendapati dirimu kecewa secara berlebihan.

Sayangnya aku lupa untuk memegang teguh perkataannya dan membiarkan diri jatuh justru ke tempat yang tidak semestinya. Dia tahu itu, aku juga sama. Hanya saja kami tutup mata dan telinga. Pura-pura lupa. Pura-pura tidak tahu apa-apa.

Lantas bagaimana?

Penyesalan menjadi milik kami, selamanya. Nasi menjadi bubur, kami sedang mencoba memperbaiki rasanya kemudian menikmati. Apa-apa yang terlanjur, kami pilih sebagai jalan yang mesti dilalui.

Tapi, semoga kami dijauhkan dari sebuah penyesalan di hari akhir kelak.

أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَٰحَسْرَتَىٰ عَلَىٰ مَا فَرَّطتُ فِى جَنۢبِ ٱللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ ٱلسَّٰخِرِينَ

Supaya jangan ada orang yang mengatakan: “Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah). (Az Zumar: 56)

Sesungguhnya kami berlindung dan berserah pada-Nya. Dia Maha Mengetahui segala hal baik dan buruk bagi kami.

Hal Kecil

Merica sama ketumbar itu jelas bedanya. Pun dengan daun jeruk dan daun bawang. Kamu juga tahu kan bedanya cabai merah dan cabai keriting? Oh, atau satu lagi! Kamu tahu kan mana yang lengkuas dan mana yang jahe? Bahwa dengan memukul pangkal sereh menggunakan pegangan pisau akan lebih membuat rasa dan aromanya menguar. Merobek daun jeruk sebelum mencemplungkannya ke dalam larutan penuh bumbu akan membuatnya rasanya padu. Cuci piringnya semua dulu, baru bilas. Pakai baskom yang sudah berisi air untuk menaruh kentang setelah dikupas.

Itu semua hal kecil, katamu. Tapi besar untukku.