Aku Menulis Karena Aku Mudah Lupa

Aku menulis karena aku mudah lupa. Sayangnya aku bahkan juga lupa untuk menulis. Nah lho! Manusia. Seperti ingin bilang ini lumrah dan kerap kali terjadi. Aku menulis karena aku lebih suka tulisan tanganku tetap lestari. Sayangnya kian hari tulisan tanganku berubah menjadi lebih carut marut. Dokter bukan apoteker pun bukan. Tapi kalau ditanya apakah aku senang menulis? Iya, aku masih senang. Masih.

Sejatinya memang tidak praktis di era serba digital kini. Apa-apa yang sifatnya manual jadi butuh lebih banyak step untuk dilakukan. Tapi justru seperti harta karun! Kutemukan bertumpuk-tumpuk diary dan agenda masa-masa muda dan isinya nostalgia! Membawa aku ke perasaan-perasaan berbeda hanya karena tulisan tangan dengan gurat berbeda juga.

Si sotoy.

Kalau lagi kesal, tulisan tangan cenderung lebih emosional menekan dan asal-asalan. Beda cerita kalau sedang riang gembira. Seperti kami bisa lihat bunga-bunga dan rangkaian baris rapi di sepanjang halaman. Aku menulis karena itu. Karena segalanya bisa aku lepaskan di tulisanku. Karena segalanya tidak perlu aku sembunyikan di balik senyuman yang bisa saja tidak bernyawa.

Advertisement

Satu Semester

Sejatinya mengingat kematian adalah cara terbaik untuk yang mau coba kembali ‘baik’.

Tidak terasa ya. Bohong, padahal rasanya setiap hari tiap kali teringat pasti sesak sekali. Tidak ada mama di sini lengkap membuat perjalanan menjadi seorang ‘mama’ makin terasa mistis sekaligus melankolis. Tidak ada mama di sini sempurna membuat segala-galanya harus diterima dengan jauh lapang dada. Teriring selalu do’a untukmu, Ma.

Menjadi ‘mama’ oh begini ya rasanya!

Berjalan dalam seluk beluk labirin menjadi ‘mama’ untuk seorang manusia lain. Ditambah seringkali berputar-putar hanya di tempat yang sama dan selalu kembali lagi, ke diri sendiri. Satu-satu kami ditampakkan memori dan baru mengerti saat ini. Kenapa begitu kenapa begini. Ternyata dijalani sendiri barulah mengerti.

Menjadi ‘mama’ memang tidak akan pernah seperti mama, tapi semoga jalanku kuat aku lalui dengan kedua kaki ini. Meski tidak dengan mama, ada dia yang membersamai.

Terselip Sebuah Syukur

Sudah beberapa hari, tanggung jawab di dapur diambil alih oleh Papa. Beliau yang membuatkan masakan untuk dimakan sehari-hari. Tentu saja dengan pertimbangan dirinya sendiri dan sesekali bertanya padaku menu apa yang ingin kumakan. Kebayanyak aku menurut saja. Sekali dua kali aku komentar bahwa tidak perlu memasak dalam jumlah banyak dan terlalu banyak lauk, karena hanya kami yang makan. Beberapa menu berhasil membuat selera makan pulih dan kembali bergelora. Beberapa lebihnya, aku sama sekali tidak minat menyentuhnya. Seperti tidak cocok saja untuk lidahku.

Beda lagi kalau harus dibandingkan dengan masakan mama yang biasa, meskipun lauk sederhana aku tidak bisa menolak untuk mencicipi dan kemudian jatuh cinta pada rasa dan sajian setelahnya. Menu papa terkesan lebih kompleks dan dalam jumlah yang selalu berlebih menurutku. Padahal aku sudah bilang, yang makan hanya kita. Akan mubadzir bila nanti justru tidak habis dan malah terbuang. Ini memancing kesalku. Papa bersikukuh, beliau bilang aku bisa simpan untuk stok kemudian dihangatkan kembali ketika waktu makan selanjutnya. Maksudnya baik.

Hari ini sudah masuk hari ke tiga dengan lauk yang sama. Hal ini yang sebenarnya tidak aku suka. Mengulang lauk yang sama setiap hari, menghangatkan kembali makanan bersantan yang mana sungguh tidak baik dilakukan berulang kali. Pagi-pagi di waktu sahur perutku sudah menolak untuk dimasuki makanan. Mulut bekerja sama untuk tidak membuka sama sekali. Tapi, ketika makanan yang sudah terlanjur aku ambil sedikit untuk mengganjal perut tiba sempurna di piring aku termangu memegang sendok dan melihat nasi beserta lauknya.

Buru-buru aku mengucap istighfar berulang kali. Menenangkan hati yang sedari tadi menggerutu karena perkara lauk yang sama setiap hari. Perkara menu papa yang justru terlalu kompleks menurut versiku.

Kenapa aku harus kufur pada sebuah nikmat?

Seketika aku merasa bersalah pada papa, pada mama, pada diriku sendiri, terlebih pada Allah. O ow. Bukannya bersyukur karena papa masih ada untuk sementara melengkapi kebutuhanku karena mama tidak bisa, aku malah banyak protes ini itu ketika beliau melakukan semuanya dengan rasa sayang dan cinta untukku. Bukannya aku bersyukur karena aku masih punya makanan sahur dan berbuka yang enak dan lengkap ketika di luar sana mungkin ada saudaraku yang untuk makan saja susahnya luar biasa, aku malah malas-malasan menyuapkan nasi ke mulut yang padahal tanpa effort. Bukannya aku bersyukur Allah memberikan kemudahan di setiap urusanku, aku malah lalai untuk memaknainya.

اَسْتَغْفِرُاللهَ الْعَظِيْمَ.

Semoga Allah memaafkan aku atas segala lalai dan kufur ini.

Perebut

Ada yang mati-matian jadi membenci orang lain karena merasa miliknya direbut. Padahal sejatinya di dunia ini tidak ada yang benar-benar menjadi milik kita. Ada yang kemudian jadi kesal tidak karuan ketika sesuatu yang dianggap miliknya diusik, padahal lagi-lagi dunia ini adalah fana. Termasuk segala apa yang ada di dalamnya.

Lantas kata “Perebut” menjadi tolakan kebencian yang pasti. Karena dia sudah merebut “apa yang aku punya”, maka aku akan membencinya.

Orang-orang yang merasakan ini, hatinya pasti tidak tenang. Diselimuti banyak sekali perandaian, penyesalan, penafikan, tidak terima terhadap keadaan kehilangan. Lantas bagaimana dengan orang-orang atau “substansi” yang dianggap “perebut”? Bagaimana rasanya? Apakah tenang, apakah lantas jadi bahagia, atau ikut-ikutan menjadi tidak karuan?

Sudut pandang dari orang yang merasa direbut miliknya, saat itu hanya berpusat pada dirinya dan miliknya. Seiring berjalannya waktu, kalau Tuhan mengizinkan sepertinya bisa saja berubah. Menerima, atas direbutnya kebahagiaan semu dan didapatkan kebahagiaan yg sebenarnya. Sesuatu yang memang untuknya.

Saranku, sebisa mungkin jangan jadi perebut. Sebesar apapun hasratmu, menyelinap dan merampas tidak akan pernah menjadikanmu puas.

Suara Berisik

Sekarang tengah malam, aku tadinya tertidur pulas. Karena belum sholat isya, jadi terbangun. Diingat-ingat lagi, kalau tidurnya belum sholat pasti secara ajaib malam menjadi lebih berisik di kepala dan telinga. Pada akhirnya pasti jadi terbangun, entah karena mimpi aneh tidak karuan atau suara yang terus berulang terdengar.

“Bangun!”.

Terima Kasih

Kalau dipikirin lagi, aku harusnya bilang terima kasih untuk setiap perlakuanmu yang membuat cenat-cenut kepala sepanjang tahun-tahun sebelumnya. Termasuk di dalamnya segala gerutu dan sumpah serapah yang aku layangkan pada benda-benda mati yang bahkan tidak peka dan merasa. Perlakuanmu mengantarkan aku pada titik singgah terbaik.

Sebelum aku melangkah lebih jauh, menyelam lebih dalam, atau bahkan mendaki lebih tinggi. Aku ingin mengucapkan terima kasih.

Semoga kamu bahagia seterusnya.

Seperti Bulan dan Bintang

“Bulannya lagi bagus, Ri! Asli kali ini cerah cetar membahana. Bulat sempurna.”

Sebuah pesan di kotak masuk. Belum aku buka, tapi aku bisa membacanya di tampilan notifikasi. Terbayang langsung bagaimana mimiknya ketika menyampaikan itu langsung padaku biasanya. Aku langsung membalas dengan singkat, “Yap. Tadi lihat.”  Sejenak kemudian pikiranku terbang entah kemana.

Ketika langit cerah, bulan purnama sedang terang-terangnya. Kenapa ya, orang-orang itu cenderung lebih suka memperhatikan apa-apa yang menjadi sorotan. Sepertinya menjadi sesuatu yang bersinar terang itu akan lebih mudah diperhatikan ketimbang menjadi sinar-sinar kecil yang hampir tak kasat mata.

Duh, mati. Aku tuh mau nulis tapi merangkainya lagi ga pas terus.

Intinya begini, akibat baru saja merenung di luar rumah karena perkara bulan purnama aku jadi punya ide buat menulis sebuah cerita. Pemikiran yang muncul begitu saja tentang Si Bulan dan Si Bintang. Dua benda langit yang digandrungi oleh manusia pada umumnya. Eh kamu juga berpikiran yang sama tidak?

Kalau bulan sedang cantik-cantiknya, maka tidak perlu lama untuk menanti munculnya gambar-gambar epik berseliweran di lini masa media sosial. Dengan cerita banyak rasa menggugah emosi jiwa. Tidak sulit juga kamu temukan jenis gambar yang biasa saja sampai niat luar biasa menggunakan aneka macam alat bantu melihat benda angkasa. Hasilnya sungguh bikin wow pokoknya.

Di saat semuanya sibuk saling berkomentar tentang keindahan dan kecantikan Si Bulan, ada titik-titik sinar lain yang juga sebenarnya selalu ada di langit. Itulah Si Bintang, mereka juga cantik dan elok pada porsinya sebetulnya.  Tapi karena jaraknya yang lebih jauh dari Bumi, cahaya yang bisa dilihat terkesan kecil dan redup oleh mata manusia. Mereka juga yang jarang dapat tegur sapa dari para manusia pada umumnya. Jarang sekali ada yang bisa dengan instant mendapatkan potret  keindahan yang mereka miliki.

Kalau mereka diibaratkan di  kehidupan berorganisasi perusahaan mungkin bisa juga seperti itu kali ya. Seseorang bisa menjadi bulan dan yang lainnya bintang. Tidak ada yang buruk rupanya hanya saja bagaimana ia tampak di muka umum. Ada yang dapat kesempatan untuk tampil sempurna, dilihat banyak mata, mengerjakan hal-hal besar, mendapatkan tepuk tangan meriah di depan panggung tapi tentu saja tidak bisa lepas dari orang-orang yang ada di belakangnya. Seperti bintang yang ikut memberikan cahayanya ke bulan, orang-orang yang berada di lini berbeda yang tugasnya untuk mendukung keberadaan bulan adalah sosok spektakuler yang pantas untuk pula diberi apresiasi.

                  Di Paragon, cahaya-cahaya kecil seperti itu bertebaran di berbagai divisi departemen yang tersebar luas se-Indonesia. Banyak dari teman-teman Paragonian yang mungkin merasa dirinya bukan siapa-siapa karena hanya melakukan pekerjaan kecil yang menurut mereka tidak memiliki dampak besar. Padahal tidak akan ada perusahaan yang menjadi besar kalau tidak ada langkah kecil secara konsisten di sepanjang waktunya. Padahal mereka bisa jadi bintangnya. Boleh jadi kontribusi kita masih dirasa kecil, tapi untuk setiap hal kecil yang terus dilakukan dengan ketulusan dan datangnya dari hati akan terasa sampai ke hati. Membawa Paragon menjadi semakin besar tanpa harus merasa besar kepala.

                  Ada yang hariannya dikelilingi tumpukan berkas, terlalu sibuk tanpa bisa bertemu dengan teman antar divisi. Ada yang hariannya sibuk bolak-balik di lorong dan bilik membersihkan debu yang terselip. Ada yang hariannya bertahan 8 jam sehari untuk berdiri dengan senyum tetap terpatri. Ada yang hariannya berpeluh keringat menurunkan dan menaikkan produk ratusan koli. Ada juga yang harus berjaga ketika yang lain sudah di rumah bersama orang-orang tercinta.

Tidak harus selalu jadi bulan yang selalu bersinar terang untuk dapat sebuah penghargaan. Karena penghargaan terbaik biasanya datang dari dalam dirimu sendiri dan karena dirimu sendiri. Seperti bintang yang sinarnya memancar sempurna. Karena dia memang sebuah bintang, dan akan tetap menjadi bintang.

                  Ternyata Paragon tidak semata menyediakan tempat bekerja, tapi juga set pertemuan keluarga baru di luar rumah kita. Cahaya yang kecil dan bersinar itu berpadu menjadi hiasan sempurna yang saling melengkapi dan indah dilihat mata. Kalau sekarang kamu merasa bukan jadi si Bulan, aku yakin kamu adalah tetap si Bintang. Terang dengan cahayanya sendiri.

Siapa pun kamu dan apa pun yang sedang kamu lakukan sekarang, percaya pada potensi sendiri dan berikan yang terbaik. Teruslah bersinar dan barangkali suatu saat kamu akan dapatkan momen epik. Kalau sudah begitu, esok lusa jangan lupa berbagi cerita denganku juga ya 

Sampai jumpa!

Beradaptasi dengan Ambisi, Sulitkah?

Ketika memutuskan untuk memilih bekerja selepas lulus SMAKBO, saya bertekad tidak lagi ingin melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan dunia laboratorium, kimia, dan segala hal yang mirip-mirip dengan mereka. Bahkan kalau bisa saya bekerja di ruang kerja yang ala metropolitan. Itu lho seperti setingan yang ada di buku teenlit yang ada di rak perpustakaan. Jadi ya kurang lebih itu adalah semacam ambisi masa muda seorang Ria.

Bak hujan di tengah kemarau, pucuk dicinta ulam tiba.

Perusahaan yang sekarang menjadi tempat saya bernaung sejak tahun 2011 adalah perusahaan yang mewujudkan secuil ambisi seorang Ria muda. Tidak lagi bekerja dengan seragam jas lab, tidak perlu pakai goggle, sarung tangan atau masker yang seringnya membuat keringat terproduksi secara berlebihan. Ria yang sekarang punya meja kerja sendiri dengan tumpukan buku serta majalah dan alat-alat tempur kecantikan di mejanya. Lengkap dengan kamera saku untuk belajar mengambil gambar. Tugas pertama di tangan. Menjadi fotografer dadakan.

Oke, mau iklan sejenak. Mengucapkan terima kasih untuk PT Pusaka Tradisi Ibu (sebelum Paragon yang sekarang, dulu namanya ini) untuk segala kerendahan hatinya mau menerima saya lebih dan kurangnya di masa itu.

Lanjut? Baik..

Terbiasa berpikir secara struktur dan sistematis karena aturan SOP di laboratorium menjadikan saya harus banyak belajar di tahun pertama. Hal-hal baru tentang industri yang sama sekali tidak ada dalam daftar impian ternyata justru memberi warna-warni di kehidupan masa muda. Memberikan kesempatan untuk mengenal orang-orang baru dan tempat baru bahkan jenis makanan baru.  Semua terjadi tanpa SOP tentunya, mengalir begitu saja. Belajar menerima instruksi dan membaca situasi. Dibekali pesan-pesan dan contoh nyata laku para senior yang terasa seperti kakak sendiri.

Suatu hari akhirnya ikut serta di dalam sebuah proyek bersama Pak Salman, dulu beliau belum jadi CEO. Harus keliling ke rumah para artis elite untuk tugas pengambilan gambar guna keperluan pembuatan video pilates bersama Lisa Namuri (sampai sekarang beliau ini masih menjadi Spoke Person-nya Wardah). Kalau diingat-ingat lagi, proyek itu juga yang membuat saya merasa ‘wow’ dengan diri sendiri. Seperti ingin memberi selamat atas sebuah pencapaian bahwa kamu berhasil mencapai apa yang kamu inginkan dan berhasil beradaptasi dengan baik. Sudah tidak lagi kerja di balik meja laboratorium bisa berkenalan pula dengan para pekerja seni dan artis ibu kota. Eh tapi juga sekaligus tahu dan merasakan lelah sekaligus keseruannya orang di balik layar seperti para tukang rias, pengambil gambar, editor, penata lampu, supir, dan bahkan pembantu umum. Banyak obrolan yang lantas jadi pelajaran, banyak candaan yang sekaligus jadi hiburan. Tidak sesulit itu ya ternyata.

Belajar dari mereka langsung yang ada di lapangan ternyata membuat adrenalin lebih terpacu. Yang selama ini tahunya hanya hasilnya saja, sekarang jadi tahu bagaimana proses itu bermula dari awal sampai jadi hasilnya di layar kaca yang kita tonton dengan santai di gawai masing-masing. Hm, lantas tiba-tiba jadi terpikir jangan-jangan saya punya ambisi baru nih. Tidak hanya bekerja di balik meja kerja dengan laptop dan berkas lagi, tapi juga bertualang ke tempat-tempat baru dan ikut membuat karya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Terus bagaimana ya caranya? Sejauh ini caranya adalah menuliskan pengalaman saya yang lalu itu supaya kamu bisa baca ceritanya dan sembari terus menjalankan pekerjaan yang dimiliki sekarang dengan penuh syukur. Tidak lupa mari sambil menggali potensi diri supaya tidak ketinggalan zaman dan babak belur.

Esok lusa, baca cerita saya yang lain masih mau kan? Malam ini mari kita cukupkan.

😉

Kenapa Menulis?

Suatu sore ikut menyimak sebuah materi yang disampaikan oleh Rezky Firmansyah. Menurut saya, materinya cukup umum untuk sebuah permulaan di kelas menulis dan sering juga dibahas oleh banyak penulis yang sebelumnya didengar. Tapi sepertinya sore itu sebagai momen bangkitnya sinapsis otak saya ketika harus menjawab pertanyaan “kenapa sih kamu menulis?”. Jawaban saya adalah saya menulis untuk digunakan ketika saya harus recalling. Kenapa saya harus recalling? Karena saya merasa lega ketika saya berhasil mengingat apa saja yang saya lakukan setiap harinya. Seperti saya tahu bahwa saya sudah berusaha keras hari ini. Kemudian bisa menimbulkan rasa syukur setelahnya, karena saya sudah sampai di sore hari dan bisa menutup hari dengan tenang.

Ternyata, saya juga menyadari hal ini membantu saya untuk mendisiplinkan waktu saya sehari-hari. Kalau tidak menuliskan apa saja yang saya lakukan hari ini dan mau apa besok, rasanya jadi tidak produktif dan hilang arah.

Tidak jarang saya melewati menulis kegiatan harian dan langsung mengerjakan apa saja yang saya mau kerjakan hari itu atau setelah selesai beraktifitas malah langsung pulas. Satu dua hari masih bisa saya rapel, semacam recalling lebih keras. Tapi kalau terlalu lama jedanya, membuat saya melewatkan beberapa atau kadang banyak hal yang seharusnya tetap saya ingat. Oleh karenanya menulis menjadi sarana untuk saya mengingatkan diri saya sendiri. Seperti yg saya sampaikan di awal.

Terlebih saya adalah tipe orang yang suka menulis menggunakan tulisan tangan, langsung memegang pulpen atau pensil di atas kertas. Membuat coretan dan kata atau sesekali menggambar di bagian kosongnya. Sesekali kalau merasa sedang terlalu lelah untuk bercerita panjang lebar, saya cukup menuliskan poin saja tentang apa yang saya lakukan dan perlukan untuk dicatat. Setidaknya semacam pengingat inti.

Belakangan sejak adanya WFH, menulis jadi lebih jarang saya lakukan. Kok aneh sih, bukannya kalau WFH justru punya lebih banyak waktu untuk sekedar menulis? Oh ternyata tidak begitu untuk saya. Biasanya saya bisa membuat tulisan minimal satu lembar sehari, tapi distraksi di kala pandemi membuat saya hanya bertahan membuat tulisan 1-5 kalimat saja. Itupun saya lakukan di media sosial kalau sedang ingin. Akibatnya apa, buku agenda yang biasanya bisa saya gunakan untuk mengecek jadwal harian dan bercerita panjang lebar kini menjasi lebih banyak bolongnya. Bukan karena saya tidak ada kegiatan, tapi saya yang terlalu malas untuk menuliskan. Ralat, bukan malas. Tapi teralihkan. Haha.

Nah, jadi ketika ditanya tentang alasan kenapa menulis oleh Rezky jadi semacam pengingat juga nih akhirnya. Ada yang sempat hilang dari yang biasa saya lakukan dan yang mana sebetulnya kebiasaan saya itu cukup bernilai positif. Maka dari itu, semoga dengan kembali memfokuskan diri dan membentengi diri dari macam-macam distraksi, tulisan saya bisa terbit lagi. Selamat berkreasi kembali, Ri!