[Resume] The Happiest Woman in the World

Aku langsung resume bagian ke tiga saja ya. Simple points tapi merangkum isi dari buku ini. Aku pribadi merasa diingatkan kembali untuk terus bersyukur dan do my best.

Count the blessings that Allah has bestowed upon you.

Bangun tidur, kerja, tidur lagi, makan cukup, ga kurang anggota badan, lingkungan aman, keluarga masih ada, badan juga sehat. Lalu bandingkan dengan kemungkinan banyak perempuan di belahan bumi lain yang keadaannya tidak sama denganmu. Bukankah kamu sudah sepantasnya bersyukur atas tiap apa yg kamu dapatkan sekarang?
Rejoice and be of good cheer.

A little that makes you happy is better than a lot that makes you miserable.

Percaya pada apa yang sudah diberikan padamu adalah sesuatu yg kau butuhkan. Optimis pada masa depan yang sudah dirancang oleh-Nya sedemikian rupa. Pergunakan dengan baik setiap kesempatan meski itu sedikit. Sedikit untuk berbagi, sedikit untuk membuat orang lain senang, sedikit tapi berkah untuk kamu dan hidupmu. Be like a butterfly, which is light-hearted and beautiful, not attached to mere things.

Look at the clouds and not at the ground.

Untuk termotivasi menjadi baik, lihatlah yang lebih baik. Milikilah harapan sekaligus keyakinan. Sabar dan persisten. Kalau kembali lagi pada sebuah kesalahan dan perbuatan dosa, bertobatlah lagi dan lagi. Hafalkan Quran, dan kalau lupa, kembali ulang dan hafalkan lagi dan lagi. Hidup bukan sesuatu yang instan, tapi harus terus dibangun dan didekorasi untuk lebih baik. Lakukan semuanya dengan yakin bahwa Allah akan membantumu.

وَعَلَى اللَّهِ فَتَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ…

Giving up sin is jihad, but persisting in it is stubbornness

Living in a hut with faith is better than living in a place with disbelief.

Iya, sudah semestinya kita bahagia karena kita berada dalam keadaan Islam. Kamu mau bandingkan lagi dengan wanita di luar sana yang barangkali hidupnya lebih cukup, tinggal di rumah bak istana, punya banyak harta, serta paras cantik rupawan tapi mereka belum dapat kesempatan sepertimu? Percayalah, kamu jauh lebih baik dan harus bisa lebih bahagia. Ndak ada yang menjamin semuanya. Kebahagiaan nyatanya adalah berupa kepuasan dalam hati, kedamaian dalam pikiran, kemampuan untuk peka, sukacita di hati, perilaku terpuji, dan selalu puas dengan apa yang sudah dimiliki. Bukan harta itu, bukan paras itu, bukan gemerlap itu.

Organize your time so that you can do all you have to do.

Put your trust in the Ever-Living Who will never die. Perbaiki lagi keseharian. Waktu yang dipakai untuk apa. Baca buku bermanfaat, dengarkan rekaman yang baik, banyakin hapalan dan baca Quran. Cari yang indah, barangkali akan lebih membantumu meresapi setiap kalimatnya. Pelajari apa yang Rasullullah lakukan, karena melindungi dari kemungkinan kesalahan yang akan kau buat dan menyelesaikan apa yang mungkin jadi masalahmu selama ini.

Jawabanmu dalam Al Quran dan Sunnah, kenyamananmu dalam sebuah keyakinan, kegembiraanmu dalam berdoa, kecantikan wajahmu dalam seyuman, keamanan untuk kehormatanmu dalam hijab, dan ketenanganmu ada dalam mengingat Allah.

Our happiness is not like theirs.

Kita diminta untuk meyakini bahwa lagu menyedihkan, film hiburan, drama romansa, majalah, dan hiburan dunia bukanlah jalan untuk bahagia dan gembira. Bukan seperti itu. Justru sebenarnya hal itu akan membawamu pada jalan yang salah dalam menemukan ketenangan. Karena pada akhirnya, hatimu akan lebih tenang dan bahagia ketika kau dapati dirimu larut dalam sebuah penyesalan, tobat, dan penyerahan diri pada Allah. Membaca Quran, mendengarkan khutbah, mempelajari lebih banyak ajaran Rasulullah.

Climb aboard the ship of salvation.

Karena hidup hanya sekali. Maka bukan tempatnya untuk hal-hal tidak berguna dan pengejaran sepele. Kumpulkan banyak persediaan untuk hari nanti, berjuang untuk selalu jadi lebih baik di setiap waktunya dan tapakilah jalan yang benar. The wise woman turns a desert into a beautiful garden.

The key to happiness is prostration.

Langkah pertama untuk menuju kebahagiaan di setiap harinya adalah Sholat Shubuh. Asli. Ini betul banget. Minimal, kalaupun kamu lagi ga sholat, tapi kamu bangun pagi sesuai jadwal dan lakukan aktifitas bermanfaat tanpa harus tidur lagi. Aku bisa jamin, hari kamu setidaknya akan jauh terasa lebih indah. Badanmu akan terasa lebih sehat dan apapun yang kamu lakukan hari itu akan terasa lebih produktif. Soalnya ternyata Allah ndak memberkahi hari itu kalau kamu tidak memulainya dengan berdoa alias sholat. Jadi, pantas saja akan merugilah bagi orang-orang yang mengabaikan ini.

Old women make heroes.

Just give the best of you for this religion as a believer. Take from the breeze its tenderness, from the musk its fragrance, and from the mountain its steadfastness.

To be the most beautiful woman in the world.

With your beauty, you are better than the sun; with your morals you are more sublime than a musk; with your modesty you are nobler than the full moon; with your compassion you are more beneficial than rain.

Pertahankan cantikmu dengan keyakinan, ketenanganmu dengan kepuasan, kesucianmu dengan hijab.

لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى – 92:15

Wherever you go and find darkness in your life; what you have to do is to light the lamp within yourself.

  • Judul Buku: You Can Be The Happiest Woman in The World
  • Penulis: Dr. ‘Aid al-Qarni

 

Advertisements

Jagung Rebus untuk Jalan Saja



Aku memilih tak menghadiri pernikahanmu karena satu hal yang aku berdoa karenanya, semoga aku tidak salah memilih. Adanya aku di hari bahagiamu mungkin akan menambah semarak sebuah perayaan dan kau merasa senang karena aku bisa datang (bener ga? haha pede), tapi apalah arti kehadiran tapi kalau jiwa para tamu undangan tetaplah kosong karena ada urusan lain yg masih melayang di hati dan pikiran. Aku tidak ingin itu terjadi, aku ingin ketika hari itu tiba, aku sebetul-betulnya hadir sebagai orang yang berbahagia juga memberikan doa terbaik atas sebuah hari besar sahabatnya. Tapi apa daya, ternyata lain sisi aku juga ingin hadir di sini. Oleh karenanya aku pilih tetap di Jakarta, mengikuti jadwal lain. Padahal aku ini menganggap kamu adalah kakakku, tapi justru tak bisa hadir di hari pentingmu, maaf. Kita sahabatan saja deh kalau gitu. Gak jadi kakak adikan. Karena kalau jadi adikmu juga, sepertinya aku tak sanggup. Karena kamu galak.




Aku memilih untuk mengikuti rangkaian acara di kantor dan berpartisipasi dengan gembira di dalamya. Iya, semoga begitu. Akupun tidak berharap banyak sebetulnya. Tapi kan apa-apa tetap harus diusahakan dulu baru akhirnya berpasrah pada hasil yg diberikan semesta atas ridho Allah.




Perempuan dewasa dengan tubuh (lebih) mungil (dariku) ini akhirnya mantap juga melangkah bersama laki-laki baik pilihannya yang juga tentu saja memilihnya balik. Aku bahagia. Karena cinta bersambut dan bekerja dengan caranya pada kalian. Menurutku itu salah satu kebahagiaan yang patut disyukuri betul-betul ketika ada seseorang yang mau menerima kita dan saling menguatkan dalam perjalanan yang panjang ini menuju hari kekal. Karena tidak banyak yang bisa tetap bertahan untuk terus bersama sampai waktu itu tiba dalam koridor yang benar.




Kalau kamu bilang kamu butuh uang untuk segala macam persiapan hari pernikahan ala ‘manusia di negara kita’, mungkin aku juga tak bisa bantu banyak, tapi aku siap berbagi denganmu. Kalau saja kamu bilang kamu butuh kehadiranku alias mewajibkan aku datang dan membantumu selama menjelang hari repot sampai hari H, aku juga akan siap. Lebih mudah jadinya memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan bertualang ke Tuban di akhir pekan. Tapi kamu ternyata bilang, kamu baik-baik saja dan “kelean udah banyak bantu plus emotikon cium”. Hah! Aku tahu kamu memang perempuan setrong. Ditambah katamu, prioritas tiap orang itu juga beda-beda. “Santai aja.




Iya begitu, tapi aku tahu juga kok kalau kamu pasti tahu bahwa aku dan SSP selalu berdoa yg terbaik untuk kamu di hari bahagia ini, di hari sebelumnya, dan di hari yang akan datang. Bukankah tak ada yang lebih indah dari saudara yang saling mendoakan dalam kebaikan?




Aku juga berharap semoga pernikahan kalian membuat hidup terasa lebih semangat dan kuat, karena sekarang dan sebentar lagi bukannya hanya sepasang kaki tapi dua pasang kaki untuk berjalan jauh bersama. Bukan juga hanya sepasang tangan, tapi dua pasang tangan untuk saling bekerja sama membuat impian jadi nyata sampai surga, insyaallah.






Aku menyayangimu dan sampai ketemu lagi. Selamat atas pernikahanmu. Aku tahu esok itu kamu akan tampil cantik. Agak beda dari biasanya. Peluk cium dari jauh. Doa melangit dengan sungguh-sungguh.

Selamat berbahagia💕Ria

Memberikan Perhatian

Eh, dia potong rambut. Jadi lebih rapi dan cantik/tampan ya. Eh, dia punya jam tangan baru. Kok keren. Lho, kamu sakit? Mau aku buatkan makanan atau antarkan ke dokter?Aku lagi di luar kota, kamu mau nitip sesuatu?Hati-hati ya, nanti kalau sudah sampai berkabar padaku. dan masih banyak lagi. Deras mengalirnya perhatian menuju tempat-tempat yang mungkin tidak begitu perlu dan penting juga untuk diperhatikan. Kamu paham maksudnya, kan?

Sedangkan ada yang dengan tulus tanpa ingin dibalas tetap tersenyum tenang dan sepenuh hati masih berada di tempat yang sama. Sedari awal hingga maut kelak memisahkan (insyaallah). Melangitkan doa-doa hanya untuk setiap kebaikan yang dicurahkan untuk satu atau lebih anaknya. Iya, orang tua kita. Ibu dan ayah. 

Menyesakkan. Ada yang mendesak ingin tumpah dan keluar. Semoga tidak pernah ada kata terlambat untuk terus berusaha memuliakanmu wahai papa dan mama. 

Love, 

Ria.

Prasangka Ria

Jauh dari tanah air, lantai empat, pinggir jendela, MacBook Air (pinjaman), dan cahaya redup melengkapi sesi merenung malam ini. Melanjutkan yang siang tadi. Dari sekian lembar bolak-balik semasa hidup ketika dibaca, satu dua ayat seketika begitu relatable dengan kejadian yang sedang kita alami. Sadar atau tidak, mungkin cara sederhana Allah untuk mengingatkan jiwa-jiwa pelupa dalam diri manusia.

tulisan-arab-alquran-surat-yunus-ayat-34-36

Siang tadi jeda di tiga enam ketika waktu Dzuhur tiba. Melipir ke tulisan kecil di sampingnya dan mendapati kalimat perihal pesan Allah tentang prasangka, dugaan, atau apalah sebutannya. Jika dalam penjelasan ayat-ayat ini merujuk pada pengambilan keputusan untuk memeluk keyakinan nenek moyang yaitu berhala yang didapatkan secara turun temurun dan dianggap (menduga, tidak berdasar dalil, bukti dan fakta) adalah hal yang bijak jika tetap diikuti dan tidak mau mengambil jalan benar yg sudah disampaikan lalu pada akhirnya itu semua hanya akan berakhir pada kesia-siaan dan tidak berguna. Sama sekali. Maka aku merasa kalimat terakhir bisa lebih umum untuk sekedar perasaan seorang manusia bernama Ria.

Tetiba baper.

Seringkali kita banyak menduga, berprasangka, menilik kira-kira terhadap sesuatu di luar kuasa dan pengawasan kita sebagai makhluk. Padahal kenyataannya bukan seperti yang kita kira, meski bisa jadi baik atau lebih buruk sekalipun. Terlalu banyak berprasangka terhadap hal-hal yang buruk akan menstimulus otak melakukan hal-hal tak terkendali yang berujung pada penyebab terjadinya hal yang justru tidak kita inginkan. Tulisan ini lebih kepada menyampaikan apa yang sudah pernah aku alami sih. Sekedar berbagi pengalaman dan mungkin bisa diambil manfaatnya.

Beberapa kali merasa cemburu pada keadaan orang lain, kenapa bukan aku yang begitu, kenapa dia kok bisa gitu, kenapa dia bisa dekat dengan orang itu, kenapa dia yang dapat sedangkan aku tidak, atau kenapa aku ga bisa seperti mereka, kenapa dan masih banyak kenapa lainnya. Lalu timbul jawaban di kepala berupa prasangka, mulanya satu lalu beranak dan berkembang dengan massive. Menguasai akal sehat dan berakhir pada hal-hal konyol yang sederhananya tidak perlu dilakukan. Sungguh. Karena tidak berguna. Seperti terus berspekulasi tanpa berani klarifikasi. Seperti terus menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Juga seperti selalu meratapi apa-apa yang memang sudah pergi dan tak kembali.

Kebenaran akan tetap jadi kebenaran. Jika memang takdirnya benar dengan apa yang harus diterima dan dijalani, maka ‘eat that‘ dan tawakal. Percayalah dan tetap bersyukur atas semua yang terjadi, karena pasti ada maksud Allah yang baik untuk kita. Meski untuk tetap percaya itu butuh waktu dan tidak mudah, sudah pasti ada usaha di baliknya. Berhenti membandingkan diri sendiri dengan orang lain, berhenti juga menyalahkan diri sendiri secara berlebihan atas tertundanya rencana, tidak menilai tanpa tahu yang terjadi sebenarnya pada pilihan orang lain dan lain sebagainya.

Pada akhirnya, renungan malam ini ditutup dengan nasihat untuk diri sendiri agar tidak mudah menanam prasangka yang tak perlu lalu bertindak bodoh dan akhirnya menyesal. Karena, penyesalan selalu datang belakangan.

Kalau duluan, namanya pendaftaran.

Mecca, 10:49.

Ibu Sayang

Direktur di perusahaanku, menuliskan kontak istrinya dengan “Ibu Sayang”. Jadi setiap kali istrinya-yg mana beliau juga adalah Komisaris- menghubunginya, maka di layar ponsel beliau akan terpampang dengan besar tulisan “Ibu Sayang”.

Setelah dering telpon berbunyi, maka beliau pasti akan mengangkat dengan suara yang merdu dan penuh kasih sayang serta lembut. “Iya, Ibu.. kenapa?”

Ah, romantisme sederhana bahkan di meja kerja. Siang yang teduh. Kalian mau tahu direkturku sedang apa? Menyiapkan materi istrinya yg akan berangkat ke Perancis esok lusa. Lalu aku sedang apa? Tutorial bagaimana caranya crop and insert image di materi itu untuknya.

Aih, semoga suamiku kelak adalah suami yang pintar, bijak, dan mau menolong istrinya. Seperti direkturku pada istrinya-yg mana beliau juga adalah komisarisku.

ps: sayangi istrimu.

Review Film: Quiet Place

Quiet Place

Senyap sedari awal. Seperti mencekam sekaligus penasaran. Apa yang akan muncul selanjutnya. Disajikan epic secara gambar dan suara. Membutuhkan sedikit pemain tapi jelas jalan ceritanya. Pada scene tertentu, bahkan tanpa banyak dialog aku bisa ngerasin gimana sayangnya, gimana tegangnya, gimana berharganya arti keluarga.

Tentang keluarga yg bertahan hidup dari ancaman makhluk yang peka dengan adanya suara. Sampai akhirnya mereka harus merelakan anak terkecil mereka diambil makhluk itu karena dengan sengaja memutar mainan yg mengeluarkan suara. Tidak bisa terlalu bersedih, tidak bisa terlalu bahagia, semua serba terbatas berkespresi.

Dari semua kejadian di film ini yg paling membuat aku bertanya-tanya adalah gimana caranya nanti kalau lahiran (yg mana pasti akan ngeluarin suara ribut banget dan memunculkan tangisan bayi) supaya ga kedengeran sama itu makhluk. Ternyata…. mereka udah menyiapkan segalanya. Wow!

ok, nonton sendiri gih 🙂

Hal-hal Sederhana

Hal-hal sederhana yang sebenarnya seringkali memberikan banyak pemahaman seketika.

  1. Duduk di pinggir jendela dalam bus kota atau kereta. Mengedarkan pandangan ke semua penjuru dan membuka telinga. Mendengarkan betapa bisingnya ternyata mulut manusia.
  2. Berjalan melewati gang-gang tak dikenal dan berakhir pada penemuan aliran air di kampung sebelah. Terhubung dunia antara rumah-rumah kota dan desa.
  3. Memilih untuk menaiki angkutan kota, lebih lama, tapi lebih hemat di kantong celana.
  4. Mendatangi teman di luar kota tanpa banyak keraguan ini dan itu, menyatu dengan keluarganya, dan melebur di lingkungan rumahnya.
  5. Mengulang pengampunan setiap kali kuingat tentang masa-masa kelam di antara usia.

Membungkam riuh, menekan debar, dan mengalihkan aliran air yang deras ingin keluar.